Senin, 20 Februari 2012

Tugas Pertama Kuliah Pengolahan Citra Digital

Ini, aq share tugas kuliahku pada mata kuliah Pengolahan Citra Digital, Tugas pada minggu yang pertama, dosen Ibu Shofwatul Uyun 20 Februari 2012
Muhammad Hasan Teknik Informatika UIN Sunan Kalijaga


No
Nama format
ekstensi
Kegunaan
1
Bitmap Image
*.bmp
Format file ini merupakan format grafis yang fleksibel untuk platform Windows sehingga dapat dibaca oleh program grafis manapun. Format ini mampu menyimpan informasi dengan kualitas tingkat 1 bit samapi 24 bit. Kelemahan format file ini adalah tidak mampu menyimpan alpha.
2
Graphics Interchange Format
*.gif
Format file ini hanya mampu menyimpan dalam 8 bit (hanya mendukung mode warna Grayscale, Bitmap dan Indexed Color). Format file ini merupakan format standar untuk publikasi elektronik dan internet
3
Tagged Image File Format
*.tiff
Format file ini mampu menyimpan gambar dengan kualitas hingga 32 bit. Format file ini juga dapat digunakan untuk keperluan pertukaran antar platform (PC, Machintosh, dan Silicon Graphic). Format file ini merupakan salah satu format yang dipilih dan sangat disukai oleh para pengguna komputer grafis terutama yang berorientasi pada publikasi (cetak). Hampir semua program yang mampu membaca format file bitmap juga mampu membaca format file TIF.
4
The Corel WordPerfect Graphic file format
*.wpg
pada dasarnya sebuah format vektor grafis, tetapi dapat menyimpan baik bitmap dan data vektor. File-file WPG dapat berisi hingga 256 warna yang dipilih dari palet lebih dari satu juta warna.
5
Image File
*.img
File IMG digunakan oleh versi Mac OS 9 dan sebelumnya dari Mac OS. Mereka masih dapat dibuka di Mac OS X, tetapi mereka telah digantikan oleh format disk image baru. DMG.
6
PC Painbrush Exchange
*.pcx
Format file ini dikembangkan oleh perusahaan bernama Zoft Cooperation. Format file ini merupakan format yang fleksibel karena hampir semua program dalam PC mampu membaca gambar dengan format file ini





  1. Untuk mendapatkan citra1.bmp dengan spesifikasi

o Citra berwarna, dengan format BMP 24 bit per pixel.
o Citra boleh berasal dari internet, hasil scanner, atau digital camera.
o Ukuran citra 300 x 400 pixel
Pengambilan gambar menggunakan kamera digital 7 Mega Pixel. Hasil citra yang didapat berukuran 1.25 MB dengan format *.JPG kemudian diresize dan dikonversi ke bitmap (*.BMP) menggunakan program XnView for Windows. Langkah-langkahnya adalah:
  • Foto (citra) dibuka dengan program XnView for Windows (sebuah program bawaan Windows 7).
  • Klik menu “Image” kemudian klik “Resize”.
  • Masukkan Angka pixel yang diinginkan, yaitu 300X400 pixel.
    • Simpan dengan cara klik “File” kemudian “Save As”.
    • Beri nama citra1.bmp
    • Tentukan Format File pada “Save as type” pilih format ekstensi *.BMP
    Hasilnya adalah seperti berikut

    Citra1.BMP
    2. Untuk mengkonversikan citra1.BMP ke citra1.JPG dan citra1.GIF
    • Citra1.BMP yang telah dibuat dibuka kembali dibuka dengan program XnView for Windows.
    • Melakukan pengsave-an ulang dengan forman ekstensi ke *.JPG dan *.GIF tanpa dengan ukuran pixel tetap yaitu 300X400 Pixel.
    • Hasilnya adlah sebagai berikut:
      Citra1.JPG
        citra1.GIF

      1. Perbandingan ukuran file antara format BMP, JPG dan GIF
      BMP
      JPG
      GIF
      352 KB
      55 KB
      74 KB




      1. Perbandingan kualitas citra berformat BMP, JPG, dan GIF
      BMP
      JPG
      GIF
      Baik
      Baik
      Sedikit dibawah BMP dan JPG


      1. Perbandingan ukuran file dan kualitas citra BMP antara format 24 bit per pixel, format grayscale (8 bit per pixel), dan format 16 warna (4 bit per pixel).

      Format BMP
      Ukuran File
      Kualitas File
      24 bit per pixel
      352 KB
      Baik
      Grayscale (8 bit per pixel)
      199 KB
      Hitam Putih
      16 warna (4 bit per pixel)
      60 KB
      Berwarna tapi kabur

      1. Perbandingan kualitas dan ukuran file citra setelah citra diperbesar/diperkecil.

      Pixel
      Ukuran File
      Kualitas File
      600X800
      1.407 KB
      Baik
      150X200
      89 KB
      Baik

      SEKIAN.......Mohon Maaf Klo rada kacau postingannya ^^

"contoh esai pemenang lomba"

Assalamu'alaikum...
Postingan kali ini ane mau ngeshare salah satu contoh esai yg pernah menjuarai lomba esai juara 3 yg diadakan oleh IPNU dan IPPNU Jogjakarta. Esai ini ditulis oleh teman saya sendiri (tentu saja telah mendapat izin darinya), namanya Koko Triantoro, teman saya satu pondok pesantren Al Luqmaniyyah. berikut Esainya.


ESSAI
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN PLURAL SEBAGAI UPAYA PEMERSATU BANGSA
Dewasa ini perubahan kurikulum pendidikan selalu dilakukan, mulai kurikulum Suplemen 1994, kurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang dikenal dan diterapkan sampai saat ini. Perubahan kurikulum dilakukan sebagai upaya perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, dengan demikian khususnya peserta didik dapat mengikuti dan mengembangkan pemahamannya terhadap berbagai macam hal yang sedang berkembang pada saat ini. Majunya sebuah Negara dapat ditinjau dari kualitas pendidikannya, Negara yang memiliki kualitas pendidikan yang baik tentu akan menjadi sebuah Negara yang memiliki nilai luhur dibandingkan dengan Negara lain. Indonesia juga sebagai salah satu Negara yang selalu mengoptimalkan untuk memperoleh nilai luhur tersebut. Keberadaan Indonesia di tengah-tengah Negara lain merupakan salah satu tantangan bagi Indonesia sendiri, artinya Negara Indonesia sendiri pun harus mampu menunjukan kepada dunia bahwa Negara Indonesia mampu memberikan persaingan kepada Negara lain dalam hal pendidikan, kongkritnya Indonesia harus mampu melahirkan generasi cedikia, mandiri dan bernurani. Akan tetapi untuk meraih cita-cita yang luhur tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tidak cukup dengan menjalankan konsep pendidikan yang telah berjalan selama ini. Pendidikan Indonesia terlalu banyak mengadopsi teori, kurikulum, dan metode-metode pembelajaran dari Negara lain, sehingga sangat ironis apabila hal itu masih terjadi sementara Negara kita ingin lebih unggul dari Negara mereka.
Cita-cita luhur bangsa Indonesia sebenarnya sudah termaktub dalam pembukaan UUD tahun 1945 Alenia ke-3 “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, merupakan cita-cita Bangsa Indonesia yang sangat mulia. Akan tetapi sangat sulit dapat terwujud tanpa adanya rasa kesatuan nasionalisme dan patriotisme bagi masyarakat Indonesia sendiri. Penulis akan lebih menyoroti dari kutipan UUD 45 alenia ke-3 pada kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sejenak kita menengok pada sejarah Indonesia, dimana Indonesia dijajah oleh belanda selama 350 tahun, saat itu sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia masih mengalami kesengsaraan diatas kemerdekaan Negara lain. Akan tetapi tidak untuk sekarang ini, Indonesia sudah menjadi Negara yang merdeka yang memiliki harkat dan martabat, yang tidak lagi bisa diremehkan oleh Negara lain. Akan tetapi akankah semangat kesatuan nasionalisme dan patriotisme yang sejak lama dibangun oleh pahlawan-pahlawan kita terkikis oleh kebodohan-kebodohan generasi saat ini yang tidak bertanggung jawab? Sebagai salah satu jawaban untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut adalah dengan cara “mencerdaskan kehidupan bangsa”, sebagaimana yang telah penulis ungkapkan diatas bahwa dengan memiliki generasi-geneasi yang cerdas, maka bangsa kita akan memiliki nilai luhur yang mampu memberikan persaingan terhadapa Negara lain. Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta untuk meraih nilai luhur tersebut tentunya dengan menyelenggarakan pendidikan yang memiliki kualitas yang baik, yang diharapkan mampu memberikan dampak positif yang besar bagi Indonesia sendiri yaitu dapat mempersatukan bangsa.
Indonesia memiliki berbagai macam ras, etnis, budaya dan agama. Mereka yang memiliki tingkah laku budaya yang khas, sering dianggap sebagai pola tingkah laku yang tidak normal oleh budaya lain, padahal mereka biasa-biasa saja dan normal menurut mereka. Permasalahan seperti ini lah yang sering menimbulkan konflik atau kontradiksi baik antar ras, etnis, budaya serta agama. Munculnya keesadaran pada setiap individu sangatlah penting bahwa Indonesia adalah representasi dari kemajemukan dan keragaman budaya. Suatu konsep pluralitas yang mengidentifikasikan bahwa bangsa kita adalah bangsa besar yang heterogen, yang terdiri dari beragam budaya, bahasa, adat istiadat, dan keyakinan. Kesadaran yang harus dimiliki oleh setiap individu adalah merupakan sebuah karunia besar yang dianugerahkan Tuhan kepada kita ini seharusnya menjadi pemicu yang membuat masyarakat sadar, bahwa perbedaan adalah
faktor yang membuat kita tahu dan mengerti akan indahnya toleransi dalam
perbedaan.
Salah satu upaya untuk bisa menghargai adanya perbedaaan adalah dengan memberikan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat plural. Tidak seperti pendidikan monokultural yang selama ini dijalankan yang mengabaikan keunikan dan pluralitas yang berakibat terbungkamnya pribadi kritis dan kreatif pada diri peserta didik. Penulis memaknai pendidikan multikultural merupakan suatu konsep yang didasari atas kebermaknaan perbedaan yang unik pada tiap orang dan masyarakat. Penulis mengandaikan sekolah dan kelas sebagai panggung sandiwara atau arena bersimulasi pada kehidupan nyata yang plural, terus berkembang dan berubah. Keberadaan sekolah dan kelas merupakan panggung sandiwara yang nyata dengan pemeran utama peserta didik dan guru. Proses kegiatan belajar mengajar diciptakan seharmonis mungkin, melakukan diskusi dan belajar bersama serta tidak memusatkan pembelajaran kepada seorang guru (teacher center), akan tetapi kepada peserta didik yang lainnya, dengan demikian akan memunculkan suasana yang harmonis. Selain itu penerapan konsep pemahaman dan rasa solidaritas terhadap perbedaan agama akan semakin tertanam pada diri peserta didik.
Karena itu ditengah-tengah berlangsungnya “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” yang menjadi sebuah lintasan pendidikan di Indonesia, kita harus tahu bahwa pendidikan bukan hanya sebagai transfer of knowledge, bukan hanya sekedar mengajarkan “ini” dan “itu”, akan tetapi juga mentrasfer nilai dan sikap kepada peserta didik agar anak didik menjadi manusia yang berkebudayaan dan berperadaban, dengan demikian tidak saatnya lagi pendidikan mengabaikan realitas kebudayaan yang beragam. Adanya ketidaksalingpengertian dan pemahaman terhadap realitas kehidupan itulah yang menjadi kajian utama pendidikan multikultural (Multicultural education). Pendidikan multikultural merupakan respon terhadap perkembangan zaman yang semakin komplek, Dengan demikian, pada prinsipnya, pendidikan multikultural adalah menghargai perbedaan. Pendidikan multikultural senantiasa menciptakan struktur dan proses di mana setiap kebudayaan bisa melakukan ekspresi.
Pentingnya menerapkan pendidikan multikultural dan plural sebagai upaya pemersatu bangsa karena memang hal tersebut sangatlah tepat untuk direalisasikan kepada peserta didik agar mulai sejak dini terlatih untuk menanamkan rasa solidaritas terhadap perbedaan yang ada. Undang-Undang pasal 31 ayat 1 menyatakan “setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan” sementara pada pasal 31 ayat 5 menyatakan bahwa” Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia” Kedua pasal tersebut mengindikasikan bahwa pendidikan itu wajib diperoleh oleh setiap warga Negara Indonesia, tidak hanya sebatas pendidikan saja, jauh dari itu persatuan bangsa juga senantiasa dipupuk oleh setiap warga negara Indonesia, salah satu upaya agar persatuan senantiasa subur, dan terpupuk yaitu melalui pendidikan multikultural.
Bagaimanakah sebenarnya pendidikan multikultural dan plural dapat mempersatukan bangsa Indonesia? Jauh sebelum penulis membahas tentang multikultural, maka sejenak penulis hadirkan konsep metode dalam proses pendidikan. Teknis di dalam kajian pendidikan banyak metode-metode yang digunakan oleh seorang guru untuk menunjang keberhasilan seorang guru dalam mentransfer pengetahuan dan sikap, ketepatan seorang guru dalam memilih metode yang digunakan sesuai dengan materi merupakan salah satu indikator keberhasilan guru dalam mentransfer pengetahuan dan sikap kepada peserta didik. Salah satu metode yang dicetuskan oleh Robert. Slavin, yakni cooperative learning, merupakan langkah awal yang sangat mendukung terlaksananya sebuah pendidikan multikultural, metode ini merupakan salah satu yang dapat digunakan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran, teknik metode ini adalah bekerja dalam bentuk tim. Metode cooperative learning ini mempunyai efek-efek penting bagi peserta didik.
Efek penting yang pertama bahwa cooperative learning dapat mengubah norma-norma dalam budaya anak muda dan membuat prestasi tinggi dalam tugas-tugas belajar akademis lebih dapat diterima. Selain mengubah norma-norma yang terkait dengan prestasi, cooperative learning juga dapat menguntungkan bagi siswa berprestasi rendah maupun tinggi yang mengerjakan tugas akademik bersama-sama. Mereka yang berprestasi tinggi mengajari teman-temannya yang berprestasi lebih rendah, sehingga memberikan bantuan khusus dari sesama teman yang memiliki minat dan bahasa berorientasi kaum muda yang sama. Dalam prosesnya mereka yang berprestasi lebih tinggi juga memperoleh hasil secara akademik karena bertindak sebagai tutor menuntut untuk berfikir lebih mendalam tentang hubungan di antara berbagai ide dalam subyek tertentu.
Efek penting yang kedua dari cooperative learning adalah toleransi dan penerimaan yang lebih luas terhadap orang-orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, atau kemampuannya, dengan demikian metode cooperative learning sebenarnya memberikan kesempatan kepada peserta didik dengan latar belakang dan kondisi yang beragam untuk bekerja secara interdependen pada tugas yang sama dan, melalui penggunaan struktur reward kooperatif, belajar untuk saling menghargai.
Efek penting ketiga dari cooperative learning adalah mengajarkan keterampilan kerja sama dan kolaborasi kepada siswa. Keterampilan-keterampilan ini kritis di masyarakat di mana banyak pekerjaan orang dewasa dilaksanakan dalam kerangka organisasi dan komunitas yang besar dan interdependen, dengan orientasi yang semakin beragam secara kultural dan semakin global. Cooperative learning meningkatkan kerja sama karena menghargai dan mendukung perkembangan inteligensi interpersonal.
Berdasarkan uraian mengenai metode cooperative learning di atas, sebenarnya metode tersebut sudah mengajarkan dan mengarah pada pendidikan multikultural. Hal mendasar yang seharusnya disadari bersama adalah bahwa pendidikan yang seragam dan tidak menghargai terhadap pluralitas justru banyak membawa implikasi negatif. Penyeragaman bukan saja mematikan kreativitas, tetapi lebih dari itu dapat melahirkan sikap dan cara pandang yang tidak toleran, maka hal ini sangat berbahanya apabila paradigma ini diterapkan dalam pembelajaran. Karena itu membangun pendidikan yang berparadigma pluralis-multikultural merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi. Melalui paradigma semacam ini, pendidikan diharapkan akan melahirkan anak didik yang memiliki cakrawala luas, menghargai perbedaan, penuh toleransi dan penghargaan terhadap segala bentuk perbedaan.
Kata pluralis dan multikultural saat ini sedang menjadi perhatian masyarakat secara luas, sehingga dua istilah tersebut sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Kemunculan kedua istilah ini tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan dunia yang kian mengglobal. Pluralis dan multikultural dengan berbagai varian penggunaannya menjadi isu global yang “memaksa” setiap komunitas untuk menerimanya. Ia telah menjadi bagian tidak terpisah dari kecenderungan arus utama globalisasi. Akan tetpi, perbincangan tentang pluralitas dan multikultural lebih banyak berkaitan dengan aspek agama, sosial, ataupun politik. Sementara yang membahasnya dari aspek pendidikan relatif lebih sedikit. Karena itu menjadi hal yang wajar jika terminologi pendidikan pluralis-multikultural relatif belum banyak dikenal luas oleh publik. Peran pendidikan pluralis-multikultural seharusnya diapresiasi oleh masyarakat secara maksimal, yakni sebagai salah satu upaya untuk mempersatukan bangsa.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa pendidikan multikultural mempunyai peran yang sangat penting sebagai upaya pemersatu bangsa, karena pendidikan multikultural merupakan suatu pendidikan yang mengandaikan kita untuk membuka visi pada cakrawala yang lebih luas serta mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita, sehingga kita mampu melihat “kemanusiaan” sebagai sebuah keluarga yang memiliki perbedaan maupun kesamaan cita-cita. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan dan solidaritas, sehingga akan terciptanya persatuan bangsa yang sangat kokoh. Dengan demikian, pendidikan berbasis multikulturalisme pada akhirnya akan memberikan sebuah pencerahan: yakni kearifan untuk melihat keanekaragaman budaya sebagai realitas fundamental dalam kehidupan masyarakat. Kearifan itu muncul seiring dengan adanya keterbukaan untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural sebagai kemestian hidup yang kodrati.
Identitas Penulis:
Nama : Koko Triantoro
Delegasi : Pon-Pes. Al-Luqmaniyyah
Cp : 081368539119
Blog : 3an2ro.wordpress.com

Sekian, moga bermanfaat..klo dah krasa manfaatnya jgn lupa tinggalin komentar di bawah ya...^^

Semoga menang...Fighting!!!

Rabu, 15 Februari 2012

"Andai Islam seperti sebuah bangunan usang yang hampir roboh, maka akanku berjalan ke seluruh dunia mencari jiwa-jiwa muda. Aku tidak ingin mengutip dengan ramai bilangan mereka, tapi aku inginkan hati-hati yang ikhlas untuk membantuku dan bersama membina kembali bangunan usang itu menjadi sebuah bangunan yang tersergam indah.."

-Imam Hassan Al-Banna

~12 Februari syahidnya As-Syahid Imam Hassan Al-Banna ~

(Al-Fatihah ).

Kamis, 01 Desember 2011

Jam 7:30 VS Jam 8:30

Hari kamis tadi tanggal 1 Desember, ane bangun kesiangan lagi. Liat jam di HP jam 7:30. secepat kilat ane bangun untuk kuliah pagi, kan toleransi keterlambatan 30 menit. Mandi secukupnya, cebar-cebur, dah selesai, langsung pake baju terus berangkat. Sampe di kampus jam 7:55an. Dengan tampang tak berdosa, ane masuk. Bu Dosen bertanya, "Terlambat?" Ane bingung, kenapa nanya terlambat lha wong katanya toleransinya 30 menit. Ane langsung duduk n liat jam lagi di HP. Kaget, subhanallah!! Ternyata jam 9:00, kok bisa? Perasaan tadi baru jam 8:00. Busyet, ternyata ane salah liat. Dalam keadaan mata masih terkantuk-kantuk, ternyata jam 8:30 mikirnya jam 7:30. Padahal ane liat jam di HP berkali-kali, berarti berkali-kali itu juga ane salah ngerespon. Busyet-busyet..Emang deh, klo mata baru melek, pikiran panik jadinya kayak gini ini..

Selesai kuliah ane maju ke Ibu dosen. "Bu saya boleh tandatangan?" Dengan nada jutek dia jawab, "Gak boleehh......"

Huft..hari aneh yang menjengkelkan.

Sorenya ada kuliah lagi. Kuliah JST (Jaringan Syaraf Tiruan). Kuliahnya eksklusif. Dikatakan ekslusif karena satu kelas cuma terdiri dari tujuh orang. Ane seneng banget ama tu kuliah coz karena mahasiswanya dikit, ane berani explor tuh dosen, kebetulan dosennya juga pakar, jadi enak ditanyain terus. Cuma sayangnya, sore itu ane gak garap tugas. Tugase lumayan ribet, suruh bikin pengenalan pola huruf A sampe Z pake JST menggunakan program matlab. Sampe dikelas, ane ngopy tugas tetangga sebelah, namanya Mba Anggi, kakak kelas ane, hee..

Sang Dosen, Pak Nurrahman namanya, deketin ane, "Gimana, San, progress tugasnya? ada kesulitan? Coba saya liat punya kamu." Gubrak..ketauan deh, tapi never mind. Dosennya enjoy :D  Dia bilang gini "Saya harap Anda semua serius dengan kuliah ini bahkan bisa mengambil kuliah ini sebagai tema skripsi kalian." (skripsi? wah, gue banget, hehe). Lebih lanjut dosennya bilang gini, "Nanti kalo pengenalan huruf latin ini sukses kita coba ke huruf hijaiyyah, keren setiap tahun ada proyek tentang JST, ayo kita maen kroyokan ikutan proyek itu. tahun kemarin saya bikin proyek JST dapet lima puluh juta." Dalam hati, wah, bapak-bapak, kenapa gak bilang dari dulu, ngerti gini ane serius kuliahnya, heheheheh.


Selesai kuliah, ane ngecek ATM. Alhamdulillah, kiriman udah datang, tujuh ratus ribu seperti biasa. Melihat nominal duit kiriman bulanan di layar ATM ane jadi merasa malu dan sedih sendiri. Ya, sedih dan malu dengan kelakuan ane yang kuliah serasa main-main padahal ortu ane gak pernah sekalipun ngirim duit bulanan pake duit palsu, selalu tepat awal bulan gak pernah telat. Ane merasa gak punya harga diri, dedikasi, dan tanggung jawab yang kuat. Suer, ane sedih! Dari dulu ane pengin berubah, tapi nih mata bawaannye melek terus klo malem n tidur klo pagi. So, mulai sekarang ane mau nyoba ah, Bismillah, gak usah tidur pagi, biarin deh, ngantuk-ngantuk, pusing-pusing, yang penting bisa berubah. Perubahan itu harus dijalani dengan setahap demi setahap. Ah, jadi lebay...

Ya itulah, pengalaman ane hari itu. Pulang dari kuliah, di pondok ane kejatah khithobah acara rutin malem juma'at. Ane ceramah serius kali ini. Temanya keutamaan bulan Muharram, sumbernya full internet, ahihihihi...

Bye-bye..
Mmmcuah...

Senin, 28 November 2011

T A


Hampir dalam setiap minggu ane mengajukkan TA kuliah. Hebat kan? TA yang ane ajukan hampir tidak pernah ditolak. Terus, kenapa sampai saat ini ane belum kelar-kelar juga kuliahnya. Masalahnya justru terletak pada pengajuan TA tadi. Kok bisa? Ya bisalah. Lho wong yang dimaksud TA di sini tuh Titip Absen alias gak berangkat kuliah. Ini gila, tapi mau gimana lagi. Ane bener-bener males ama yang namanya kuliah pagi. Bener-bener males, mirip lagunya sapu tuh, Harapan Jaya yang lagunya kuliah pagi. Itu lagu zamane ane masih kecil, masih SD, eh MI ding. Hari ini, Senin tanggal 28 November 2011, ane bolos kuliah lagi, tepatnya kuliah pagi untuk mata kuliah Pemrograman Visual. Ane males karena tuh kuliah bareng sama ade-ade kelas. Bayangin aja coba, masa ane yang angkatan 2007 sekelas sama anak-anak angkatan 2010? karena dah keseringan akhirnya malu juga, ane memutuskan tidak mengajukan TA. Dalam unek-unek kali ane sertakan juga foto prosentase kehadiran kuliah ane, hehehe.

mungkin aja nih dari temen-temen salah paham, kenapa ane sering bolos kuliah pagi, emangnya bangun jam berapa, gitu kan? Kalo masalah bangun, di pondok pesantren al Luqmaniyyah jam 03.00 pagi dah dibangunin buat mujahadah plus qiyamullail. Tapi, ane tuh tidurnya malem banget bahkan sering juga gak tidur sama sekali malemnya, seperti malem senin kemaren ane gak tidur blas, sahur buat puasa sunnah senin n langsung mujahadah. So, dah bisa ditebak deh, abis sholat shubuh jamaah tidur lagi alias bangkong dan bangun kesiangan. Begitulah rutinitas saya, wak..

Tapi, sebenernya dalam lubuk hati ane yang paling dalam, bahwa kuliah adalah amanat dan tanggung jawab. Amanat dari orang tua yang menjadi tanggung jawab kita. Sumpah ane pengin berubah. pengin berubaaah....!!!! Di tahun baru Islam ini ane ingin memperjuangkan kehidupan yang layak. Agar kelak babe n emak ane bangga n gak nyesel punya anak bontot kayak ane. Semoga tercapai. Amin-amin Ya mujibassa-iliin...Klo nanti gak tercapai, ya udahlah gak pa2..yang penting dah niat, wakakak..

tengkyu...:) :) :) :)


NB: untuk matakuliah KP n TA I memang tidak ada kuliah

Sabtu, 26 November 2011

Kisah Dibalik Pembuatan Blog

Malam Ahad, 1 Muharram 1433 H tepat tanggal 26 November 2011 ane masih di krapyak di kontrakan mbayu (mba Habibah), nemenin dia n nginep juga hari Jumatnya coz suaminya lagi di Pati, katanya ngurus pendataan ulang untuk E-KTP, dalam hati, apa gunanya E-KTP klo gitu aja harus ke kota asal (hehe, kritik dikit buat pemerintah). Karena izin keamanan cuma semalem, ya udah malem itu juga harus go home ke pondok. Sepanjang perjalanan terbayang-bayang omongan Bahri, temen sekamar ane yang asli Padang, dia bilang gini, "Malem satu suro tuh jangan pergi-pergi, pamali, entar ada apa-apanya." Muke gilee, hampir aja ane terpengaruh omongan tuh orang, ketika motorku tiba-tiba aja lampu depannya mati. "Wah, gawat klo gini, bisa ditilang, mana polisi banyak banget di perempatan benteng  mengamankan orang-orang yang lagi muterin benteng (Jadi klo di Semarang malem satu Suro orang-orang pada ngadain ritual di Lawang Sewu, nah klo di Kota Jogja, orang-orang, terutama abdi dalem, pada ngadain ritual muterin benteng berjalan kaki tanpa ngomong)."  Tapi Alhamdulillah, akhirnya lampu hidup lagi...Gak jadi deh, ane percaya mitos asal jeplaknya si Bahri. Sampe di pondok, pondok Al Luqmaniyyah maksudnya, langsung ane online lagi bikin deh ini blog. Sebenarnya blog ane banyak, sejak zamannya masih jadi mahasiswa baru dah bikin blog, buanyak pokokelah, tapi gak kopen, alias ditinggal begitu saja. Nah, setelah ane pikir, bikin blog pribadi yang konsisten penting juga, ya paling gak buat jadi catatan harian yang dibaca banyak oranglah, sharing ilmu, dll.
Begitcu, hyuu...

(Salam hangat, Kang Kasan)